Langsung ke konten utama

Ya Allah, Bolehkah Aku Mengeluh ??

 Ya Allah, Bolehkah Aku Mengeluh ??

   Mendengar kata “mengeluh”, mengingatkan saya akan firman Allah surah Al-Ma’arij ayat 19–20 :
 (اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا<> اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا<> وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا<>)  
“sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir”.
Dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan tentang manusia dan akhlak tercela yang diciptakan Allah padanya yaitu berkeluh kesah dan kikir. Kemudian ditafsirkan melalui ayat selanjutnya bahwa jika dia ditimpah oleh suatu hal yang menyusahkan, maka dia akan gusar dan mengeluh. Hatinya pun menjadi hancur karena rasa takut yang luar biasa menyeramkan dan berputus asa dari mendapat kebaikan. Dan apabila mendapat kenikmatan dari Allah maka dia sangat kikir untuk memberikannya kepada orang lain dan menolak memberikan hak Allah dari nikmat yang didapatkannya tersebut.
Memang manusia diciptakan dengan mempunyai sisi positif dan negative. Apabila ia ditimpa suatu hal yang tidak ia harapkan dan tidak diinginkan pasti akan berkeluh kesah. Tapi bagaimana jika Allah memberikan sesuatu yang lebih untuknya, kemungkinan besar ia akan sombong dan kikir. Apakah anda ingat dengan kisah Tsa’labah bin Hatib? Saya menemukan kisah ini dalam buku “menjadi penolong” karya Anwar Sutoyo. Beliau mengutip kisah tersebut dari tafsir Surat At-Taubah: 75-78) dalam kitab tafsir Al-Azhar diceritakan bahwa :
“Tsa’labah Bin Hatib adalah orang miskin yang taat beribadah, ia selalu memohon kepada Allah untuk diberi kekayaan. tapi do’a itu tidak segera di ijabah oleh Allah. Kemudian Tsa’labah pergi untuk sowan (menemui) Nabi Muhammad “Wahai Nabi, aku telah taat beribadah, aku selalu berdo’a kepada Allah, tapi kenapa keadaanku masih sama seperti ini ? tolong do’akan aku supaya aku bisa kaya”. Kemudian Rasulullah menjawab “Bagaimana engkau ini Tsa’labah, apakah engkau tidak senang seperti aku saja (sederhana). Kalau seandainya aku minta kepada Tuhanku apa yang aku inginkan, niscaya itu akan mudah untuk aku dapatkan. Wahai Tsa’labah, harta sedikit yang engkau bisa mensyukurinya lebih baik daripada banyak tapi menjadikan engkau kufur”.
Tapi Tsa’labah tetap bersihkeras untuk minta dido’akan oleh Rasulullah.dan ia berjanji kalau ia kaya ia akan memberikan hartanya kepada orang yang berhak menerimanya. Akhirnya Nabi mendoakan Tsa’labah, dia mulai membeli seekor kambing untuk dipelihara. Allah memberkati usahanya sehingga kambing yang ia pelihara berkembang pesat sampai memenuhi kota Madinah. Setelah kambing yang ia pelihara berkembang biak banyak ia pun menjadi orang yang kaya akhirnya ia pun lupa beribadah dan menjadi kikir. Suatu hari Nabi mengutus seorang 2 sahabat untuk meminta shadaqah kepadanya. Tapi ia menolaknya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya “engkau seperti ini karena engkau diperintah oleh nafsumu sehingga engkau tidak taat lagi padaku dan melupakaNya”.
Di dunia ini siapa yang nggak ingin hidup enak, bahagia, kerja enak, banyak teman, banyak harta, serba kecukupan, tak pernah ada masalah, hidup dirumah mewah ?? semua manusia pasti mendambakan itu semua. sekarang mari kita melihat dan menilai diri kita, bagaimana cara kita untuk menikmati hidup ? masihkah kita mengeluh dengan keadaan kita saat ini atau sudahkan kita mensyukurinnya ??
Terkadang kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Kita terkadang mengeluh dengan keadaan kita saat ini, merasa iri dengan seseorang yang mempunyai harta berlebih. Sekarang kita masih bisa duduk di bangku kuliah dan bisa menikmati banyak tugas yang diberikan bapak ibu dosen. Sedangkan diluar sana masih banyak orang yang mendambakan bisa kuliah di kampus favoritnya. Bahkan banyak dari mereka tidak bisa mewujudkan mimpinya karena terhalang oleh prahara ekonomi atau bahkan belum rejekinnya untuk masuk perguruan tinggi karena gagal dalam seleksi.
Pernakah kita juga merasa jenuh saat harus duduk lama didalam kelas menikmati presentasi teman dan penjelasan dosen ? terkadang sampai kita terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur ?. pernahkah kita merasa kesusahan dan kebinggungan saat mengerjakan tugas ? apalagi ada 3 tugas sekaligus dalam 1 hari dan harus diselesaikan pada hari yang sama ? tidak jarang kalau tugas selesai dalam semalam (SKS) dan besok dipresentasikan.
Sadarlah sahabat-sahabatku, semua itu akan mudah jika kita menikmatinya. Jangan banyak mengeluh, sungguh masih banyak sahabat-sahabat kita yang lebih membutuhkan daripada kita. Mereka yang tidak bisa menikmati pendidikan karena harus membantu orang tua, mereka yang hidupnya tertatih dijalan, untuk mencari sesuap nasi pun mereka harus bersusah payah, bahkan untuk mencari tempat tidur pun mereka susah, kadang hanya numpang di depan emperan dengan beralas Koran dan aspal jalan dan berselimut hawa dingin.
Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kita hanya memandang keatas untuk masalah harta dan kekayaan. Itulah yang akan membuat kita selalu mengeluh dengan keadaan kita saat ini. Sungguh kita patut bersyukur dengan apa yang diberikan Allah kepada kita saat ini. Percayalah Allah tahu apa yang terbaik untuk kita.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنُّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat Ku) maka sungguh adzabKu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Sungguh Allah akan menambah nikmat jika kita mau bersyukur. So, marilah kita buat hidup kita bahagia dengan nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada kita saat ini. Jangan selalu mengeluh dan merasa kalau Allah gak saying kita, mungkin kita yang kurang saying kepadaNya. Bagaimana mau minta kebahagiaan kalau kita saja melupakanNya ?
Bagaimana mau menjadi kaya kalau kita tak mau berusaha ? Bagaimana mau dikasihi kalau kita tak mau mengasihi ? Bagaimana mau bahagia kalau kita tak mau membuatNya bahagia? Bagaimana mau bersyukur kalau kita masih kufur ?
Bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita (orang miskin) ? bolehkah mereka mengeluh ?. menurut Gus Dur dalam tulisannya yang dimuat dalam majalah TEMPO pada 15 Maret 1980 dan kemudian dimuat dalam buku melawan melalui lelucon beliau menuliskan :
“bukankah manusia adalah makhluk termulia, sehingga tidak layak jika ia tetap berada dalam kemiskinan ? bukankah, karena kemuliaanya itu, ia menyandang sebagai Khalifatullah di muka bumi ? bukankah perwujudan gelar itu adalah penciptaan manusia dalam proporsi kemahlukan paling sempurna ? bukankah perwujudan kemahlukan sempurna itu menuntut dukungan material bagi kehidupan manusia sendiri ? bukankah dukungan material itu hanya dapat diperoleh dari hidup serba kecukupan atau kita mengenal dengan istilah Mode (kehidupan berkualitas tinggi). Bukankah kehidupan yang seperti itu hanya dapat dicapai dengan upaya mengubah keadaan kita sendiri, karena Allah telah menentukan dalam Al-Qur’an “tidaklah Allah mengubah suatu kaum, selama mereka tidak mengubah apa yang ada pada mereka sendiri” bukankah suatu kewajiban bahwa pemberantasan kemiskinan adalah kewajiban kita sendiri? “
Dari kutipan tulisan Gus Dur tersebut dapat kita ambil ibrah bahwa sebenarnya manusia memang menginginkan kehidupan yang serba ada dan berkecukupan dan tidak layak hidup dalam kemiskinan dan mengeluhkan keadaanya. Bagaimana mau menjadi kaya kalau kita hanya terdiam dan pasrah dengan kemiskinan, kita tak mau berusaha untuk mengubah hidup kita dan kita hanya mengeluhkannya ? Sungguh Allah telah menentukan rezeki untuk semua hambaNya, tinggal bagaimana usaha kita untuk menjemput dan meraihnya. Karena Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum jika mereka tidak mau berusaha untuk mengubah keadaanya.
Bolehkah kita mengeluh ?? kita boleh mengeluh tapi mengeluhlah kepada Allah, tapi jangan hanya mengeluh dan pasrah dengan keadaan kita. Tapi setelah kita mengeluhkan semuanya kepada Allah kita harus berusaha untuk mengais dan menjemput rejeki kita. Rezeki tak akan pernah tertukar, Allah telah menciptakan makhlukNya dengan rezeki untuknya, bahkan semut pun sudah dikasih jatah rejeki oleh Allah. Coba kita renungkan, hewan sekecil itu mereka setiap hari selalu berusaha untuk mencari makannya, meraka berbondong-bondong keluar dari tempatnya untuk mengais rezekinnya. Mereka tidak akan kembali ke sarangnya sebelum ia mendapat makannya. Mereka tidak takut akan bahaya yang menimpanya.  Marilah kita buat kita hidup kita bahagia dengan selalu bersyukur bukan selalu mengeluh. Jangan menunggu kebahagiaan dan rezeki datang kepada kita, tapi marilah kita jemput rezeki kita.

Komentar

  1. Catatan yang mengingatkan untuk selalu bersyukur. Terima kasih banyak ya.

    BalasHapus

Posting Komentar